Rabu, 28 September 2016

#SIP Etika Menulis Artikel Online



Artikel? Siapa yang tidak pernah membaca sebuah artikel? Pasti kalian sering membacanya melalui internet atau koran. Tetapi apakah kalian tahu bahwa seseorang yang membuat artikel itu berdasarkan sebuah fakta atau tidak? Nah, disini saya akan membahas mengenai “Etika Menulis Artikel Online”.
Pertama-tama saya akan membahas apa itu Etika? Etika berasal dari kata “etika”, “etis”, dan “moral”. Etika juga berasal dari kata yunani “ethos” dalam bentuk tunggal yang memiliki banyak arti, tempat tinggal yang biasa; padang rumput, kandang habitat; kebiasaan adat; akhlak, watak; perasaan sikap, cara berpikir. Etika adalah mengenai bagaimana kita menghadapi tantangan untuk berbuat baik ketika hal itu lebih mahal dari apa yang kita bayar. Etika memiliki 2 aspek, yaitu:
1.      Menyangkut kemampuan membedakan yang benar dari yang salah, yang baik dari yang jahat, dan yang pantas dari yang tidak pantas.
2.      Menyangkut komitmen bertindak yang benar, baik, dan pantas.
Biasanya seseorang menulis artikel hanya berdasarkan perasaan dan informasi yang minim, sehingga artikelnya dapat membuat seseorang sulit memahami dan mudah tersinggung saat membacanya. Maka dari itu, seseorang harus memahami apa itu yang di maksud dengan menulis? Menulis merupakan sarana mengembangkan daya pikir atau nalar dengan mengumpulkan fakta, menghubungkannya kemudian menarik kesimpulan. Menulis juga suatu keterampilan berbahasa yang dipergunkan untuk berkomunikasi secara tidak langsung, tidak secara tatap muka dengan orang lain. menulis merupakan suatu kegiatan yang produktif dan ekspresif.
Nah diatas sudah ada penjelasan etika dan menulis, selanjutnya saya akan menjelaskan apa itu artikel? Yang sudah kita bahas-bahas sedikit di awal, artikel adalah tulisan lepas berisi opini seseorang atau kelompok yang mengupas tuntas suatu masalah tertentu yang sifatnya aktual dan kontroversial untuk tujuan memberi informasi, mempengaruhi dan meyakinkan atau menghibur khalayak pembaca.
Nah dalam menulis artikel online juga terdapat etika-etika saat penulisan, yaitu:
1.   Seorang penulis harus membuktikan karyanya memang hasil orisinil miliknya, bukan jiplakan,
2.   Penulis juga harus menulis secara cermat, teliti, tepat, dan akurat untuk terhindar dari pelanggaran seperti Fabrikasi data yang merupakan mempabrik data atau membuat data yang sebenarnya tidak ada atau lebih umumnya data fiktif,
3.   Falsifikasi data yaitu mengubah data sesuai dengan keinginan, terutama agar sesuai dengan simpulan yang ingin diambil dari sebuah penelitian ,
4.   Plagiat atau plagiarisme kata ini sudah umum dikalangan masyarakat, khususnya di Indonesia, plagiarisme ialah mengambil kata atau kalimat teks seseorang tanpa memberikan bentuk situasi yang secukupnya.
Dengan adanya pelanggaran ilmiah dapat menjaga kebenaran dan manfaat serta makna informasi yang disebarkan sehingga tidak memberi dampak buruk kepada pembacanya. Seorang penulis juga harus bertanggung jawab dengan tulisan yang dibuatnya dan tulisannya dapat memberi manfaat kepada masyarakat yang membacanya.
            Dengan adanya penjelasan diatas membuat kita mengerti pentingnya etika dalam menulis artikel online, biasanya seseorang menulis hanya menggunakan insting atau perasaan dan mengandalkan informasi yang ada dan minim. Sehingga penulis tidak mengerti apa yang ia tulis merupakan sebuah fakta ataukah sebuah gossip semata.

Sumber:
John, C, M. (2003). Etika Yang Perlu Dikehahui Setiap Pemimpin. Jakarta: PT. BPK Gunung Mulia.
Bertens, K. (2011). Etika. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.
Wicaksono, A.  (2014). Menulis Kreatif Sastra dan Beberapa Model Pembelajarannya. Yogyakarta: Garudhawaca.
Gustiana, A. (2015). Artikel adalah (online). http://dokumen.tips/documents/artikel-adalah.html. Diakses pada tanggal 5 Oktober 2015 pukul 18.59 WIB.
Abdullah, G, A. (2012). Kode Etik Penulis dan Etika Penulisan dalam Artikel ilmiah. Bandung: Universitas Pendidikan Indonesia.

Minggu, 17 April 2016

Teknik-Teknik dalam Pendekatan Humanistik



Teknik Terapi
Teknik utama eksistensial humanistik pada dasarnya adalah penggunaan pribadi konselor dan hubungan konselor-konseli sebagai kondisi perubahan. Namun eksistensial humanistik juga merekomendasikan beberapa teknik (pendekatan) khusus seperti menghayati keberadaan dunia obyektif dan subyektif klien, pengalaman pertumbuhan simbolik (suatu bentuk interpretasi dan pengakuan dasar tentang dimensi-dimensi simbolik dari pengalaman yang mengarahkan pada kesadaran yang lebih tinggi, pengungkapan makna, dan pertumbuhan pribadi).
Teknik dalam terapi ini antara lain:
  • Penerimaan
  • Rasa hormat 
  • Pemahaman
  • Menentramkan hati 
  • Pertanyaan terbatas 
  • Memantulkan pertanyaan dan perasaan
Pada saat terapis menemukan keseluruhan dari diri klien, maka saat itulah proses terapeutik berada pada saat yang terbaik. Penemuan kreatifitas diri terapis muncul dari ikatan saling percaya dan kerjasama yang bermakna dari klien dan terapis. Proses konseling oleh para eksistensial meliputi tiga tahap yaitu:
  1. Tahap pertama, konselor membantu klien dalam mengidentifikasi dan mengklarifikasi asumsi mereka terhadap dunia. Klien diajak mendefinisikan cara pandang agar eksistensi mereka diterima. Konselor mengajarkan mereka bercermin pada eksistensi mereka dan meneliti peran mereka dalam hal penciptaan masalah dalam kehidupan mereka.
  2. Pada tahap kedua, klien didorong agar bersemangat untuk lebih dalam meneliti sumber dan otoritas dari sistem mereka. Semangat ini akan memberikan klien pemahaman baru dan restrukturisasi nilai dan sikap mereka untuk mencapai kehidupan yang lebih baik dan dianggap pantas.
  3. Tahap ketiga berfokus pada untuk bisa melaksanakan apa yang telah mereka pelajari tentang diri mereka. Klien didorong untuk mengaplikasikan nilai barunya dengan jalan yang kongkrit. Klien biasanya akan menemukan kekuatan untuk menjalani eksistensi kehidupanya yang memiliki tujuan. Dalam perspektif eksistensial, teknik sendiri dipandang sebagai alat untuk membuat klien sadar akan pilihan mereka, serta bertanggungjawab atas penggunaaan kebebasan pribadinya. 
Saya menyukai teknik-teknik dalam terapi ini karena klien diminta untuk memahami masalahnya terlebih dahulu, kemudian klien diminta untuk menentramkan hatinya agar bisa menjawab beberapa pertanyaan terbatas yang diajukan oleh terapis. Klien juga diminta untuk memntulkan kembali pertanyaan yang diajukan oleh terapis kemudian menyampaikan bagaimana perasaan yang dirasakan saat itu. Klien memberikan rasa hormatnya terhadap terapis yang telah membantunya dan mencoba untuk menerima apa yang dialaminya saat itu.

Sumber:
Corey, Gerald. (1995). Teori dan praktek konseling dan psikoterapi. Bandung : PT. Eresku.
Modul Bimbingan dan Konseling - PLPG Kuota. (2008). Surabaya: Unesa.

Sabtu, 09 April 2016

Kekurangan dan Kelebihan Pendekatan Humanistik


      Pendekatan Humanistik

Sebenarnya Eksistensial “Humanistik” dengan tokoh Victor Frankl dan Rollo May ini bukan terapi, tetapi filsafat sebagai pendekatan yang berkembang dari reaksi terhadap dua model besar dalam terapi, yaitu Psikoanalisis dan Behaviorisme.
Dalam pandangan Victor Frankl sebagai tokoh Logo Therapy (Logo Therapy adalah terapi yang menekankan pada kebermaknaan hidup dengan amalan) yang juga bicara eksistensial “humanistic”, terapis memasuki dunia subyektif klien tanpa praduga apapun. Sedang Sigmund Freud memasuki dunia klien dengan memaksakan pendapatnya dalam bentuk interpretasi.

Teori ini di kembangkan oleh maslow(1908-1970), konsep utama yang dianut adalah usaha untuk mengerti manusia sebagaimana adanya, mengetahui mereka dari realitasnya, melihat dunia sebagaimana mereka melihatnya, memahami mereka bergerak dan mempunyai keberadaan yang unik konkrit dan berbeda dari teori yang abstrak. Psikologi humanistik dapat dimengerti dari tiga ciri utama, yaitu, psikologi humanistik menawarkan satu nilai yang baru sebagai pendekatan untuk memahami sifat dan keadaan manusia. Kedua, ia menawarkan pengetahuan yang luas akan kaedah penyelidikan dalam bidang tingkah laku manusia. Ketiga, ia menawarkan metode yang lebih luas akan kaedah-kaedah yang lebih efektif dalam pelaksanaan psikoterapi.
Humanistik tidak jelas kaitannya dengan ekologi psikologi. Pada satu sisi, Humanistik tempat yang paling berkuasa atas nilai potensial untuk pengembangan individu.  Ini nilai-nilai pengalaman manusia dan kemampuan manusia untuk melampaui pikiran dengan lingkungan sekitarnya, dengan cara yang kreatif.  Jadi dalam hal Humanistik untuk manusia dan pengalaman. Humanistik adalah ilmu manusia untuk menangkap pengalaman dalam semua keindahan yang subjektif.  Ini yang menyebabkan sebuah penekanan atas berbagai  metode fenomenologi yang bertujuan untuk mendapatkan semaksimal mungkin jati diri manusia.
Kebutuhan manusia di susun sebagai lima tahap.Maslow berpendapat bahwa hirarki kebutuhan manusia tersebut sifatnya menyeluruh, makin tinggi hirarki yang di dapat maka dia makin memperlihatkan individualitas kemanusiaan dan kesehatan psikologinya. Kelima tahap itu adalah :
     1.      Kebutuhan dasar
     2.      Kebutuhan keamanan
     3.      Kebutuhan kasih sayang
     4.      Kebutuhan akan di hargai
     5.      Kebutuhan  kegiatan 
Humanistik Menurut Maslow
Teori Maslow didasarkan pada asumsi bahwa di dalam diri individu ada dua hal :
        a)      Suatu usaha yang positif untuk berkembang
        b)      Kekuatan untuk melawan atau menolak perkembangan itu.

            Maslow mengemukakan bahwa individu berperilaku dalam upaya untuk memenuhi kebutuhan yang bersifat hirarkis. Pada diri masing-masing orang mempunyai berbagai perasaan takut seperti rasa takut untuk berusaha atau berkembang, takut untuk mengambil kesempatan, takut membahayakan apa yang sudah ia miliki dan sebagainya, tetapi di sisi lain seseorang juga memiliki dorongan untuk lebih maju ke arah keutuhan, keunikan diri, ke arah berfungsinya semua kemampuan, ke arah kepercayaan diri menghadapi dunia luar dan pada saat itu juga ia dapat menerima diri sendiri(self).
            Maslow membagi kebutuhan-kebutuhan (needs) manusia menjadi tujuh hirarki. Bila seseorang telah dapat memenuhi kebutuhan pertama, seperti kebutuhan fisiologis, barulah ia dapat menginginkan kebutuhan yang terletak di atasnya, ialah kebutuhan mendapatkan ras aman dan seterusnya. Hierarki kebutuhan manusia menurut Maslow ini mempunyai implikasi yang penting yang harus diperharikan oleh guru pada waktu ia mengajar anak-anak. Ia mengatakan bahwa perhatian dan motivasi belajar ini mungkin berkembang kalau kebutuhan dasar si siswa belum terpenuhi.

     Kelebihan Teori Pendekatan Humanistik
1. Bersifat pembentukan kepribadian, hati nurani, perubahan sikap, analisis terhadap fenomenel sosial.
2.   Selalu mengedepankan akan hal-hal yang bermuara demokratis, partisipatif dialogis dan humanis
3. Suasana pembelajaran yang saling menghargai adanya kebebasan berpendapat kebebasan mengungkapkan gagasan
4.    Indikator dari keberhasilan aplikasi ini adalah merasa senang, bergairah, berinsiatif dalam belajar dan terjadi perubahan pola pikir , perilaku dan sikap atas kemauan sendiri

Kekurangan Teori Pendekatan Humanistik
1.    Bersifat individual
2.    Proses belajar tidak akan berhasil jika tidak ada motivasi dan lingkungan yang mendukung
3.    Sulit diterapkan dalam konteks yang lebih praktis
4.   Teori humanistik tidak bisa diuji dengan mudah
5. Banyak konsep dalam psikologi humanistik, seperti misalnya orang yang telah berhasil mengaktualisasikan dirinya ini masih buram dan subjektif
6.   Psikologi humanistik mengalami pembiasan terhadap nilai individulisti


Daftar Pustaka
Rosjidan. 1988. Pengantar teori-teori konsleing.  Jakarta: Direktorat Pendidikan Jenderal Pendidikan Tinggi, Departemen Pendidikan dan  Kebudayaan.
Sukardi, D.K. 1985. Pengantar teori konseling: suatu uraian ringkas.
            Jakarta Timur: Ghalia Indonesia


Kamis, 17 Maret 2016

Teknik-Teknik Terapi psikoanalisa



Ada 5 macam terapi dalam psikoanalisa yaitu: (1) Analisis mimpi, (2) interpretasi, (3) analisis mimpi, (4) analisis resistensi dan (5) analisis transferensi (pemindahan).
1.      Asosiasi Bebas
Teknik pokok dalam terapi psikoanalisa adalah asosiasi bebas. Terapis memerintahkan klien untuk menjernihkan pikirannya dari pemikiran sehari-hari dan sebanyak mungkin untuk mengatakan apa yang muncul dalam kesadarannya. Yang pokok, adalah klien mengemukakan segala sesuatu melalui perasaan atau pikiran dengan melaporkan secepatnya tanpa sensor.
Asosiasi bebas adalah salah satu metode pengungkapan pengalaman masa lampau dan penghentian emosi-emosi yang berkaitan dengan situasi traumatik di masa lalu. Hal ini dikenal sebagai katarisis. Katarisis secara sementara dapat mengurangi pengalaman klien yang menyakitkan akan tetapi tidak memegang peranan utama dalam proses penyembuhan. Sebagai suatu cara membantu klien memperoleh pengetahuan dan evaluasi diri sendiri, terapis menafsirkan makna-makna yang menjadi kunci dari asosiasi bebas. Selama asosiasi bebas tugas terapis adalah untuk megnidentifikasi hal-hal yang tertekan dan terkunci dalam ketidaksadaran.
Cara terapinya yaitu teknik dasar untuk melakukan psikoanalisa ini adalah dengan meminta klien berbaring di dipan khusus (couch) dan terapis duduk dibelakangnya jadi posisi klien menghadap ke arah lain, tidak bertatapan dengan terapis. Klien diminta mengemukakan apa yang muncul dalam pikirannya dengan bebas, tanpa merasa terhambat, tertahan dan tanpa harus memilih mana yang dianggap penting atau tidak penting. Terapis yang duduk di belakang dipan khusus pada dasarnya mendengarkan tanpa menilai atau memberi kritik dan memperlihatkan sikap ingin mengetahui lebih banyak tentang klien. Namun pada saat-saat tertentu, terapis memotong asosiasi bebas yang sedang dikemukakan oleh klien bilamana dianggap penting untuk memperjelas hubungan-hubungan antara asosiasi-asosiasi satu sama lain misalnya ada kaitanya dengan mimpi-mimpi yang dialami.

2.      Interpretasi
Interpretasi adalah prosedur dasar yang digunakan dalam analisis   asosiasi bebas, analisis mimpi, analisis resistensi dan analisis transparansi. Prosedurnya terdiri atas penetapan analisis, penjelasan, dan bahkan mengajarkan klien tentang makna perilaku yang dimanifestasikan dalam mimpi, asosiasi bebas, resistensi dan hubungan terapeutik itu sendiri. Fungsi interperasi adalah membiarkan ego untuk mencerna materi baru dan mempercepat proses menyadarkan hala-hal yang tersembunyi. Ada tiga hal yang harus di perhatikan dalam interpretasi sebagai teknik terapi. Pertama, interpretasi hendaknya disajikan pada saat gejala yang diinterpretasikan berhubungan erat dengan hal-hal yang disadari klien. Kedua, interpretasi hendaknya selalu dimulai dari permukaan dan baru menuju ke hal-hal yang dalam yang dapat dialami oleh situasi emosional klien. Ketiga, memetapkan resistensi pertahanan sebelum menginterpretasikan emosi atau konflik.
3.      Analisis Mimpi
Analisis mimpi merupakan prosedur yang penting untuk membuka hal-hal yang tidak disadari dan membantu klien untuk memperoleh penjelasan kepada masalah-masalah yang belum terpecahkan. Selama tidur pertahanan menjadi lemah dan perasaan-perasaan yang tertekan menjadi muncul ke permukaan. Freud melihat bahwa mimpi sebagai “royal to the uncouncious”, dimana dalam mimpi semua keinginan, kebutuhan, dan ketakutan yang tidak disadari diekspresikan. Beberapa motivasi yang tidak diterima oleh orang lain dinyatakan dalam simbolik dari pada secara terbuka dan langsung.
4.      Analisis dan Interpretasi Resistensi
Resistensi sebagai suatu konsep fundamental praktek-praktek psikoanalisa yang bekerja melawan kemajuan terapi dan mencegah klien untuk menampilkan hal-hal yang tidak disadari. Frued memandang resistensi sebagai suatu dinamika yang tidak disadari yang mendorong seseorang untuk mempertahankan terhadap kecemasan.resistensi bukan sesuatu yang harus diatasi karena hal itu merupakan gambaran pendekatan pertahanan klien dalam kehidupan sehari-hari. Resistensi harus diakui sebagai alat pertahanan menghadapi kecemasan.
5.      Analisis dan Interpretasi dan Transperensi
Seperti halnya resistensi, transperensi (pemindahan) terletak dalam arti terapi psikoanalisa dalam proses terapeutik pada saat dimana kegiatan-kegiatan klien masa lalu yang tak terselesaikan dengan orang lain, menyebabkan dia mengubah masa kini dan mereaksi kepada analisis sebagai yang dilakukan kepada ibunya atau ayahnya. Kini, dalam hubungan dengan konselor klien mengalami kembali perasaan penolakan permusushan yang pernah dialami terhadap orang tuanya.


Dari beberapa teknik terapi psikoanalisa yang telah disebutkan diatas, saya lebih menyukai teknik pokok dalam psikoanalisa, yaitu asosiasi bebas. Dalam terapi asosiasi bebas klien diminta untuk mengemukakan apa yang muncul dalam pikirannya dengan bebas, tanpa merasa terhambat, tertahan dan tanpa harus memilih mana yang dianggap penting atau tidak penting. Menurut saya, dengan dimintanya klien untuk mengemukakan apa yang muncul dalam pikirannya dengan bebas, terapi ini tidak terlalu membebani klien, dimana semua yang muncul dalam pikirannya, seperti pengalamannya dimasa lampau dapat diungkapkan dengan bebas. Bisa saja terdapat pengalaman buruk yang terjadi pada klien dimasa lampaunya, dalam terapi ini klien tidak harus memikirkan apakah pengalaman buruk tersebut penting atau tidak penting untuk diungkapkan, karena semua yang terdapat didalam pikiran klien akan diungkapkan secara cepat tanpa ada sensor. 
Pada saat terapi asosiasi bebas berlangsung, terapis akan mendengarkan tanpa menilai atau memberi kritik dan memperlihatkan sikap ingin mengetahui lebih banyak tentang pengalaman yang dialami oleh klien. Kemungkinan, pada saat klien mengungkapkan pengalamannya, terapis akan megnidentifikasi pengalaman tersebut bilamana dianggap penting untuk memperjelas hubungan-hubungan antara asosiasi-asosiasi satu sama lain misalnya ada kaitanya dengan mimpi-mimpi yang dialami oleh klien.



Daftar pustaka:
Gunarsa, Singgih. D. (1996). Konseling dan Psikoterapi. Jakarta:
PT.  BPK Gunung Mulia.
Surya, M. (2003). Teori-teori Konseling. Bandung:
C.V. Pustaka  Bani Quraisy.

Gunadarma University

Popular Posts

Calendar

Diberdayakan oleh Blogger.